Jumat, 14 Februari 2014

ANIME CHIBI BIAS

Annyeong Haseyo......
Kali ini aku mau posting hasil gambarku sendiri, karena biasku adalah Kyuhyun, D.O, L.Joe, dan V.. maka kali ini gambar Anime or chibi yang aku buat adalah bias-biasku tsb.. Karena masih belajar jadi mungkin hasilnya kurang bagus >_<
Tapi aku akan terus mencoba sampai hasilnya bagus...
Yeeeeeaaaahhhhhh..... Fighting...

1. Kyuhyun


2. V BTS


3. L.Joe Teen Top



4. D.O Exo



Mohon Kritik dan sarannya,, or nilainya 1-10 hehehe....
Terima Kasih



Laporan KFA SULFONAMIDA

BAB I
PENDAHULUAN

       Kimia analitik pada dasarnya menyangkut penentuan komposisi kimiawi suatu materi. Dahulu hal tersebut adalah tujuan utama seorang ahli kimia analitik. Tetapi dalam kimia analitik modern aspek-aspek juga meliputi identifikasi suatu zat elusidasi struktur dan analisis kuantitatif komposisinya. Ada dua hal mengapa kimia analitik merupakan satu-satunya cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai penerapan begitu luas. Pertama, kimia analitik menawarkan banyak sekali pemakaian dalam bermacam ilmu disiplin kimia anorganik, kimia organik, kimia fisik dan biokimia dan kedua kimia analitik terpakai sangat luas di cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya seperti ilmu-ilmu lingkungan, ilmu pertanian, ilmu kedokteran, lmu kimia klinik, zat padat dan elektronik, oseanografi, ilmu forensik dan penelitian luar angkasa.
       Mutu suatu produk dapat menyimpang dari standar yang dipersyaratkan, tetapi dalam melakukan suatu analisis, kita juga harus yakin bahwa mutu adalah bagian integral pada semua proses industry modern dan tidak terkecuali industri farmasi.
       Kimia Farmasi Analisis melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif, kuantitatif, dan informasi struktur dari suatu senyawa obat pada khususnya, dan bahan kimia pada umumnya. Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan  identifikasi elemen, spesies,dan atau senyawa obat yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu analit yang dituju dalam suatu sampel.
       Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara analisis kualitatif terhadap obat-obat golongan sulfonamida.
       Adapun tujuan dari percobaan ini untuk menentukan cara analisis kualitatif terhadap obat-obat golongan sulfonamida.
       Adapun prinsip dari percobaan ini adalah melakukan uji sesuai dengan golongan obat untuk mengidentifikasi golongan sulfonamida dengan menggunakan pereaksi yang spesifik (parry, vanillin, dan CuSO4).













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Teori Ringkas
Sulfonamida dan senyawa kuinolin merupakan kelompok obat penting pada penanganan infeksi saluran kemih ( ISK ). Demi pengertian yang baik pertama-tama akan dibicarakan secara singkat beberapa aspek dari ISK, termaksud penangananya. Kemudian pada bagian berikutnya akan dibahas secara mendalam kedua kelompok tadi. Antibiotika ISK lainya penisilin atau sefalosforin dan amini glikosida. (Tjay, 2007).
Sulfonamida adalah kemoterapeutik yang pertama digunakan secara  sistematik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia. Penggunaan sulfonamide kemudian terdesak oleh antibiotik. Pertengahan tahun 1970 penemuan kegunaan sediaan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol meningktakan kembali penggunaan sulfonamide untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu.
Sulfonamida merupakan kelompok zat antibakteri dengan rumus dasar yang sama yaitu H2N-C6H4-SO2NHR dan R adalah pelbagai macam substituen. Pada prinsipnya senyawa ini dapat digunakan terhadap berbagai infeksi.
Sulfonamida bersifat amfoter artinya dapat membentuk garam dengan asam maupun dengan basa. Daya larutnya dalam air sangat kecil, garam alkalinya lebih baik, walaupun larutan  ini tidak stabil karena mudah terurai. (Tjay, 2007).
Sulfadiazin adalah sulfonamida antibiotik . Ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan infeksi dengan menghentikan produksi asam folat di dalam sel bakteri, dan umumnya digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih (ISK). Dalam kombinasi, sulfadiazin dan pirimetamin , dapat digunakan untuk mengobati toksoplasmosis , penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. (Anonim, 2012).
Sulfanilamide adalah sulfonamida antibakteri . Secara kimia, itu adalah molekul yang mengandung sulfonamide kelompok fungsional melekat pada anilin . Sebagai antibiotik sulfonamide, itu berfungsi dengan kompetitif menghambat (yaitu, dengan bertindak sebagai substrat analog) enzimatik reaksi yang melibatkan para-aminobenzoic acid (PABA). PABA dibutuhkan dalam reaksi enzimatik yang menghasilkan asam folat yang bertindak sebagai koenzim dalam sintesis purin, pirimidin dan asam amino lainnya.
Istilah "sulfanilamid" juga digunakan untuk menggambarkan keluarga molekul yang mengandung kelompok-kelompok fungsional. Contoh meliputi:
a.  Furosemide , sebuah loop diuretik
b.  Sulfadiazin , sebuah antibiotik
(Anonim, 2012).

B.    Uraian Bahan
1.      Alkohol (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi           : AETHANOLUM
Nama Lain              : Etanol, alkohol
Rumus molekul                 : C2H5OH
Berat Molekul         : 46,07
Pemerian                : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap      dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas,    mudah terbakar dengan memberikan nyala    biru yang tidak berasap.
Kelarutan               :  Sangat mudah larut dalam air, dalam    kloroform p dan dalam eter p.
Penyimpan            :  Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari    cahaya.
Kegunaan              : Zat tambahan
2.      Aquadest  (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi           : AQUA DESTILLATA
Nama Lain              : Air suling
Rumus Kimia         : H2O
Berat Molekul         : 18,02
Pemerian                : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau,   tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup baik
3.      Co-Nitrat (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi           : COBALT (II) NITRIT
Nama lain               : Kobalt (II) Nitrat
Rumus kimia          : Co (NO3)2.6H2O
Pemeriaan              : Hablur, merah, meleleh basah
Kelarutan                : Larut dalam air
4.      CuSO4 (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi           : CUPRI SULFAT
Nama Lain              : Tembaga (II) sulfat
Rumus Kimia         : CuSO4
Berat Molekul         : 159,60
Pemerian                : Serbuk keabuan
Kelarutan                : Larut perlahan-lahan dalam air
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan              : Zat adatif
5.      HCl (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi          : ACIDUM HYDROCHLORIDUM
Nama Lain              : Asam klorida
Rumus Kimia         : HCl
Berat Molekul         : 36,46
Pemerian                 : Cairan tidak berwarna, berasap, bau           merangsang jika diencerkan 2 bagian volume   air, asap akan hilang.
Bobot Jenis            : Lebih kurang 1,18
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup rapat
6.      NH4OH (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi           : AMMONIA
Nama Lain               : Amonia
Rumus Molekul                 : NH4OH
Berat Molekul          : 36,05
Pemerian                 : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas,                                        menusuk kuat
Kelarutan                 : Mudah larut dalam air
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan               : Zat tambahan
7.      Pereaksi parry ( Tim Dosen, Hal. 35 )
Larutan CoCl2       : 2 gram
HCl                          : 1 ml
Aquadest                : ad 100 ml
Atau
Co-nitrat                  : 2 gram
HCl                          : 1 ml
Aquadest                : ad 100 ml
8.      Sulfadiazin (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi          : SULFADIAZINUM
Nama Lain             : Sulfadiazin
Rumus Molekul     : C10H10N4O2S
Berat Molekul        : 250, 27                                                 
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a2/Sulfadiazine-2D-skeletal.png/250px-Sulfadiazine-2D-skeletal.pngRumus bangun     :



                                     
Pemerian                            : Serbuk putih kekunigan atau putih agak   merah jambu, hampir tidak berbau, tidak   berasa
Kelarutan                : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut   dalam etanol (95%) P dan dalam aseton P,   mudah larut dalam asam mineral encer dan   dalam larutan alkali hidroksida
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari   cahaya matahari.
Kegunaan               : Antibakteri
Dosis Maksimum   : Sekali 2 gram, sehari 8 gram
9.      Sulfanilamida (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi          :  SULFANILAMIDU
Nama Lain             :  Sulfanilamida
Rumus Molekul     :  C6H8N2O2S
Berat Molekul        : 172, 21
File: sulfanilamide-skeletal.svgRumus bangun     :               


Pemerian                : Hablur serbuk halus atau putih, tidak berbau,                                 rasa agak pahit kemudian manis.
Kelarutan               :            Larut dalam 200 bagian air, sangat mudah larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam etanol (95%) P dan sangat sukar larut dalam kloroform P
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari                                 cahaya.
Kegunaan              : Antibakteri
10.   Vanillin (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi          : VANILLINUM
Nama Lain             : Vanillin; 4-Hidroksi-3-metoksibenzaldehida                                              (121-33-5)
Rumus Molekul     : C8H8O3
Berat Molekul        : 152,5
Pemerian                : Hablur halus berbentuk jarum, putih hingga   agak kuning, rasa dan bau khas, dipengaruhi   cahaya, larutan bereaksi asam terhadap   lakmus
Kelarutan               : Sukar larut dalam air, mudah larut dalam   etanol, kloroform, Dallam eter dan dalam   larutan alkali hidroksida tertentu, larut dalam   gliserin dan dalam air panas
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup baik.


















BAB III
METODE KERJA

A.     Alat dan Bahan
1.      Alat
a.     Batang pengaduk
b.     Corong
c.      Gelas kimia
d.     Gelas ukur
e.     Erlenmeyer
f.       Handscun
g.     Labu ukur
h.     Lap kasar dan lap halus
i.       Lampu spiritus
j.       Masker
k.      Rak tabung
l.       Sendok tanduk
m.    Sendok porselin
n.     Timbangan
o.     Tabung reaksi
p.     Pipet tetes



B.    Bahan
a.      Alkohol 70 %
b.      Aquadest
c.      HCl Pekat
d.      Co-Nitrat
e.      CuSO4 1 %
f.       Pereaksi Parry
g.      Sampel D1
h.     Sampel D2
i.       Vanilin 1 %
j.        Tissue

C.    Cara kerja
1.      Uji Organoleptis
A.     Disiapkan alat dan bahan
B.     Diamati bentuk, warna, bau, dan rasa.
2.      Uji Golongan / Uji Penegasan
a.     Untuk CuSO4 1 %
1)     Untuk kode sampel D1
a)   Disiapkan alat dan bahan
b)  Diambil sampel D1 secukupnya masukkan dalam tabung
c)  Reaksi kemudian dilarutkan dengan pereaksi CuSO4 1 % hingga menghasilkan warna putih susu lama kelamaan warna putih endapan putih kebiruan.
2)     Untuk Kode sampel D2
a)     Disiapkan alat dan bahan
b)     Diambil sampel D2 secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutkan dengan pereaksi CuSO4 1 % hingga menghasilkan endapan hijau kebiruan.
b.     Untuk Vanillin 1 %
1)     Untuk kode sampel D1
a)      Disiapkan alat dan bahan
b)      Diambil sampel D1 secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutkan dengan pereaksi vanilin 1 % hingga menghasilkan endapan putih.
2)     Untuk kode sampel D2
a)      Disiapkan alat dan bahan
b)      Diambil sampel D2 secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutkan dengan pereaksi vanillin 1 % hingga menghasilkan endapan putih kekuningan.
c.      Untuk NH4OH + Pereaksi Parry
1)     Untuk kode sampel D1
a)      Disiapkan alat dan bahan
b)      Diambil sampel D1 secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutkan dengan pereaksi NH4OH hingga menghasilkan warna putih susu lama kelamaan warna putih endapan. Kemudian ditambahkan Pereaksi Parry menghasilkan endapan merah.
2)     Untuk kode sampel D2
a)      Disiapkan alat dan bahan
b)      Diambil sampel D2 secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutkan dengan pereaksi NH4OH hingga menghasilkan warna kuning. Kemudian ditambahkan Pereaksi Parry menghasilkan endapan hitam kemerahan.
d.     Untuk Alkohol 70 %
1)     Untuk kode sampel D1
a)     Disiapkan alat dan bahan
b)     Diambil sampel D1 secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutkan dengan alkohol 70 %  hingga menghasilkan warna bening.



2)     Untuk kode sampel D2
a)     Disiapkan alat dan bahan
b)     Diambil sampel D2 secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutkan dengan alkohol 70 %  hingga menghasilkan warna bening.



















BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A.     Tabel Pengamatan
1.      Uji Organoleptis

No

Kode Sampel

Warna

Bentuk

Bau

Rasa
1.
D1
Putih
Serbuk halus
Tidak berbau
Tidak berasa
2.
D2
Putih
Serbuk halus
Tidak berbau
Tidak berasa

2.      Uji Golongan / Uji Penegasan
No
Sampel
Pereaksi
Hasil (menurut hasil praktikum)
Hasil (Menurut Literatur)
Keterangan
1.
D1






CuSO4
 1 %






Vanillin 1 %

NH4OH + Parry

Endapan warna putih susu, lama-kelamaan berwarna putih kebiruan.

Endapan warna putih

Endapan putih, lama-kelamaan endapan merah
Ungu







Coklat


Hijau kotor - ungu

-







-


-


2.
D2
CuSO4
 1 %


Vanillin 1 %

NH4OH + Parry


Alkohol 70 %

Endapan hijau kebiruan

Endapan putih kekuningan
Kuning kemudian Hitam kemerahan
Putih
putih



bening


Hijau kotor-ungu


Putih
-



+


+



+


B.    Pembahasan
     Dalam kimia, rumus fungsi sulfonamide –s C=72-NH2, sebuah gugus sulfonat yang berkaitan dengan amina. Senyawa sulfanimoda adalah senyawa mengandung gugus tersebut. Beberapa sulfanomida dimungkinkan  diturunkan juga dari asam sulfonat dengan menggantikan gugus hidroksil dengan gugus amina.
     Dalam kedokteran, istilah “ Sulfanomida” kadang – kadang dijadiakan siinonim untuk obat sulfa,yang merupakan turunan sulfanilamid.
     Pada percobaan golongan sulfonamida digunakan sampel yaitu Sampel D1 dan sampel D2 dimana masing – masing sampel terlebih dahulu dilakukan  :
1.    Uji organoleptis yaitu diamati bau, bentuk, warna, dan rasa.
2.    Uji Golongan / Uji penegasan
Pada uji organoleptis sampel D1 berwarna putih, bentuk sebuk halus dan tidak berbau,  sedangkan pada sampel D2 berwarna putih, bentuk serbuk halus dan tidak berbau.
Pada uji golongan / uji penegasan, untuk Sampel D1, pada tabung pertama ditambahkan CuSO1 % menghasilkan warna putih lama kelamaan endapan putih kebiruan. Pada tabung kedua ditambahkan pereaksi Vanillin 1 % menghasilkan endapan putih. Pada tabung ketiga ditambahkan NH4OH menghasilkan warna putih. Kemudian ditambahkan pereaksi Parry menghasilkan endapan merah.
Untuk sampel D2, pada tabung pertama ditambahkan CuSO1 % menghasilkan endapan hijau kebiruan. Pada tabung kedua ditambahkan pereaksi Vanillin 1 % menghasilkan endapan putih kekuningan. Pada tabung ketiga ditambahkan NH4OH menghasilkan warna putih. Kemudian ditambahkan pereaksi Parry menghasilkan endapan hitam kemerahan.
Dari percobaan ini diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan literature, dimana Sulfadiazin jika ditambahkan CuSO4 menghasilkan warna ungu, jika direaksikan dengan Vanilin menghasilkan warna coklat, dan jika direaksikan dengan NH4OH + Parry menghasilkan Hijau kotor – ungu. Sedangkan pada Sulfanilamid jika direaksikan dengan CuSO4 menghasilkan warna putih, jika direaksikan dengan Vanilin menghasilkan warna bening, dan jika direaksikan dengan NH4OH + Parry menghasilkan warna Hijau kotor – ungu.
Adapun ketidaksesuaian hasil yang diperoleh dengan literatur, disebabkan oleh :
Alat yang digunakan kurang steril 
Sampel yang digunakan kurang baik
Kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan







BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.     Pada uji golongan / uji penegasan, untuk sampel D1
a.    Sampel D1  + CuSO4  1 %                 endapan putih kehijauan (tidak sesuai dengan literatur).
b.     Sampel D1 + Vanillin 1 %               endapan putih (tidak sesuai dengan literatur).
c.    Sampel D1 + NH4OH + Parry             Putih + endapan merah (tidak sesuai dengan literatur)
2.     Pada uji golongan / uji penegasan, untuk sampel D2
a.    Sampel D1  + CuSO1 %                 endapan hijau kebiruan (sesuai dengan literatur).
b.     Sampel D1 + Vanillin 1 %                endapan putih kekuningan (tidak sesuai dengan literatur).
c.    Sampel D1 + NH4OH + Parry             endapan kuning + hitam kemerahan (sesuai dengan literatur)

B. Saran
Kami sebagai praktikan mengharapkan arahan dan bimbingan baik     dalam praktikum maupun dalam pembuatan laporan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2012. Sulfadiazin. (online) (http://www.wikipedia.org/wiki), Diakses tanggal 21/12/12 jam 20.10 WITA

Anonim, 2012. Sulfanilamide. (online) (http://www.wikipedia.org/wiki), Diakses tanggal 21/12/12 jam 20.15 WITA

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI: Jakarta.

Dirjen POM. 1985. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI: Jakarta.

Tjay T. H. & Rahardja S, 2008. Obat-obat Penting. Penerbit PT. Elex Media Computindo kelompok kompas-Gramedia : Jakarta

Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia. PT Bumi Aksara: Jakarta