BAB I
PENDAHULUAN
Kimia Analitik
merupakan salah satu cabang Ilmu Kimia yang mempelajari tentang pemisahan dan
pengukuran unsur atau senyawa kimia. Dalam melakukan pemisahan atau pengukuran
unsur atau senyawa kimia, memerlukan atau menggunakan metode analisis
kimia.Kimia analitik mencakup kimia analisis kualitatif dan kimia analisis
kuantitatif. Analisis kualitatif menyatakan keberadaan suatu unsur atau senyawa
dalam sampel, sedangkan analisis kuantitatif menyatakan jumlah suatu unsur atau
senyawa dalam sampel (Wiryawan. A, 2011).
Kimia analitik modern dikategorisasikan melalui dua
pendekatan, target dan metode. Berdasarkan targetnya, kimia analitik dapat
dibagi menjadi kimia bioanalitik, analisis material, analisis kimia, analisis
lingkungan, dan forensik.
Berdasarkan metodenya, kimia analitik dapat dibagi menjadi spektroskopi, spektrometri
massa, kromatografi dan elektroforesis, kristalografi, mikroskopi, dan
elektrokimia
(Anonim, 2012).
Analisis kualitatif bertujuan untuk menemukan dan
mengidentifikasi suatu zat. Jadi analisis kualitatif berhubungan dengan unsur ion atau senyawa
apa yang terdapat dalam sampel. Analisis kuantitatif bertujuan untuk menentukan
jumlah atau banyaknya zat. Jadi, analisis kuantitatif berhubungan dengan berapa
banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel (Anonim, pdf, 2012)
Maksud percobaan adalah Untuk
mengidentifikasi dan mengetahui zat –
zat terutama obat golongan barbiturat dengan menggunakan beberapa pereaksi.
Tujuan percabaan adalah
Untuk mengidetifikasi senyawa obat golongan barbiturat dengan melalui uji
pendahuluan, uji golongan, dan uji penegasan yang menggunakan beberapa
pereaksi.
Prinsip percabaan adalah
Berdasarkan pengidetifikasian senyawa obat golongan barbiturat yang dilakukan
melalui uji pendahuluan, uji golongan, dan uji penegasan dengan menggunakan
beberapa pereaksi spesifik yakni pereaksi wagner, pereaksi cuprifil maka akan
terbentuk kristal pada ujj penegasan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Teori
Umum
|
|
Barbiturat merupakan derivat asam barbiturat
(2,4,6-trioksoheksa-hidropirimidin). Asam Barbiturat sendiri tidak menyebabkan
depresi SSP, efek hipnotik-sedatif dan efek lainnya ditimbulkan bila posisi 5
ada gugusan alkil atau aril. Rumus kimia secara umum serta rumus beberapa
Barbiturat sebagai berikut:
![]() |
|
|
![]() |
Efek utama barbiturat
ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi,
hypnosis, berbagai tingkat anesthesia, koma, sampai kematian. Barbiturat tidak
dapat mengurangi rasa nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran, dan dosis kecil
barbiturat dapat meningkatkan reaksi terhadap rangsangan nyeri. Pada beberapa
individu, dan dalam keadaan tertentu, misalnya adanya rasa sakit, barbiturat
tidak menyebabkan sedasi melainkan malah menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan
delirium). Hal ini mungkin disebabkan adanya depresi pusat penghambatan
(Gunawan, 2009).
Barbiturat tidak mengurangi
rasa nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran dan dosis kecil barbiturat dapat
meningkatkan raeksi terhadapa rangsangan nyeri. Pada beberapa individu, dan
dalam keadaan tertentu, misalnya ada rasa sakit, barbiturat tidak menyebabkan
sedasi melainkan malah menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan delirium). Hal ini
mungkin disebabkan adanya depresi pusat penghambatan (Ganiswara, 1995)
Barbiturat: Fenobarbital, Butobarbital, Siklobarb dll. Penggunaannya
sebagai sedative-hipnotika kini praktis sudah ditinggalkan berhubung adanya
zat-zat benzodiazepine yang jauh lebih aman. Dewasa ini hanya beberapa
barbiturat masih digunakan untuk indikasi tertentu, misalnya fenobarb, dan
mefobarb sebagai anti-epileptika dan pentotal sebagai anestetikum (Tjay Hoan,
2007).
B.
Uraian Bahan.
1.
Aquadest ( Depkes
RI, 1979 )
Nama
Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air suling
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam
wadah tertutup rapat
2. Alkohol ( Depkes RI, 1979 )
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol, alkohol
Rumus Molekul : C2 H6O
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih
mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas mudah terbakar dengan
memberikan nyal biru tidak berasap.
Kelarutan : Sangat mudah tertutup rapat terlindung dari.
3. Barbital Natrium (Depkes RI, 1979 )
Nama
Resmi : BARBITALUM
NATRICUM
Nama
Lain : Barbital
natrium
Rumus
Molekul : C8H11N2NaO3
Berat
Molekul : 206, 2
Pemerian : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; pahit
Kelarutan : Larut
dalam 5 bagian air dan dalam 600 bagian etanol
(95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam
wadah tertutup baik.
4. Fenobarbital (Depkes RI, 1979)
Nama
Resmi : PHENOBARBITALUM
Nama
Lain : Fenobarbital, luminal
Rumus
Molekul : C12H12N2O3
Berat
Molekul : 232,
24
Pemerian : Hablur atau serbuk
hablur; putih tidak berbau; rasa
agak pahit.
Kelarutan : Sangat
sukar larut dalam air; larut dalam etanol (95%) P,
dalam eter P, dalam larutan alkali hidroksida dan dalam larutan alkali karbonat.
Penyimpanan : Dalam
wadah tertutup baik.
Kegunaan : Hipnotikum sedativum
5.
H2SO4 (Depkes RI, 1979)
Nama
Resmi : ACIDUM SULFURICUM
Nama
Lain : Asam Sulfat
Rumus
Molekul : H2SO4
Berat
Molekul : 98,07
Pemerian
: Cairan kental seperti minyak,
korosif, tidak berwarna, jika ditambahkan ke dalam air
menimbulkan panas.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Zat tambahan
BAB III
METODE
PRAKTIKUM
A. Alat dan
Bahan
1. Alat
a.
Batang pengaduk
b.
Corong
c.
Gelas kimia
d.
Gelas ukur
e.
Labu ukur
f.
Handscun
g.
Korek api kayu
h.
Lap kasar dan
lap halus
i.
Lampu spiritus
j.
Masker
k.
Rak tabung
l.
Sendok tanduk
m.
Sendok porselin
n.
Timbangan
o.
Tabung reaksi
p.
Pipet tetes
2. Bahan
a.
Alkohol
b.
Aquades
c.
Barbital
natrium
d.
Fenobarbital
B. Metode
kerja
1. Pembuatan pereaksi
a. Pereaksi zwikker
1) Disiapkan alat dan bahan yang
digunakan
2) Ditimbang CuSO4.5H2O
sebanyak 5 g, diukur NaOH pekat dan H2SO4 pekat
3) Dicampur ketiga bahan, aduk
hingga homogen
4) Dicukupkan volumenya hingga
100 ml.
b. Pereaksi Asam Sulfat
1) Disiapkan alat dan bahan
yang digunakan
2) Ditimbang H2SO4
3) Dimasukkan H2SO4 kedalam
labu ukur kemudian dicukupkan volumenya dengan Aquadest ad 100 ml, kocok hingga
homogen.
2. Cara kerja
a.
Fenobarbital
1) Disipkan alat dan bahan yang digunakan
2) Diambil sampel fenobarbital secukupnya masukkan
dalam tabung reaksi, kemudian dilarutakn dengan alcohol 70%, kemudian
ditambahkan pereaksi Zwikker 2-3 tetes, hingga menghasilkan warna biru muda,
kemudian ditambahkan H2SO4 hingga larut atau tetap.
b.
Na. Barbital
1) Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2) Diambil sampel Na.barbital secukupnya masukkan
dalam tabung reaksi, kemudian dilarutakn dengan alcohol 70%, kemudian
ditambahkan pereaksi zwikker hingga menghasilkann warna bening kebiruan.
Kemudian tambahkan H2SO4 hingga warnanya tetap atau
larut.
BAB IV
HASIL
PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Table 1. Hasil Pengamatan Uji Organoleptis
NO.
|
Sampel
|
Rasa
|
Warna
|
Bau
|
Bentuk
|
1.
|
B1
|
Agak pahit
|
Putih
|
Tidak berbau
|
Hablur atau serbuk hablur
|
2.
|
B2
|
Pahit
|
Putih
|
Tidak berbau
|
serbuk hablur
|
2. Table 2. Hasil Pengamatan Uji Penegasan
NO
|
Sampel
|
Pereaksi
|
Hasil praktikum
|
Menurut Literatur
|
Ket.
|
1.
|
B1
|
Zwikker
+
H2SO4
|
Bening
kebiruan
Tetap
|
Ungu biru
Jingga
|
-
-
|
2.
|
B2
|
Zwikker
+
H2SO4
|
Biru
muda
Tetap
|
Ungu biru
Jingga
|
+
-
|
B. P
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
embahasan
|
|
Pada
percobaan ini dilakukan uji kualitatif pada golongan barbiturat dimana sampel
yang digunakan yaitu fenobarbital dan
natrium barbital. Adapun pereaksi yang digunakan yaitu pereaksi zwikker dan
pereaksi parri. Dalam percobaan ini juga digunakan alkohol sebagai pelarut.
Sifat-sifat umum yang
dimiliki oleh golongan obat barbital yaitu sukar
larut dalam air, bereaksi dengan asam
lemah, dalam bentuk keton
tidak larut dalam air, dalam
bentuk mol larut dalam air, bentuk
keton larut dalam CHCL3, eter, etil alkohol, garam natriumnya mudah terhidrolisa, apalagi
kalau dipanaskan akan pecah dan yang mengendap adalah uraiannya.
Untuk sampel fenobarbital, didapatkan
hasil yang mana baunya lemah, warna putih, rasa pahit agak pedas, berbentuk
serbuk dan sudah larut dalam air. Dimana fenobarbital setelah dilarutkan dengan
alcohol dan ditambahkan dengan pereaksi zwikker menghasilkan larutan yang
berwarna ungu kebiruan, kemudian ditambahkan H2SO4
menghasilkan warna jingga. Pada literatur penambahan pereaksi zwikker menghasilkan larutan berwarna ungu
kebiruan, ditambahkan dengan H2SO4 menghasikan warna
jingga. Hal ini menunjukan pengaruh positif. Pada Natrium Barbital setelah
dilarutkan dengan alkohol dan direaksikan dengan zwikker menghasilkan warna biru muda, kemudian
ditambahkan H2SO4 dan warnanya tetap. Pada literature
penambahan Zwikker menghasilkan warna ungu biru dan penambahan H2SO4
menghasilkan warna jingga. Hal ini juga menunjukkan pengaruh negatif.
Adapun kesalahan dalam praktikum disebabkan oleh :
a)
Kesalahan
dalam pembuatan pereaksi
b) Alat yang digunakan kurang bersih
c) Bahan yang digunakan sudah tidak baik
d) Kesalan dalam pengamatan hasil reaksi
BAB
VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. B1+
pereaksi zwikker menghasilkan larutan berwarna ungu biru untuk
fenobarbital, kemudian ditambahkan H2SO4 warna
tetap dan hasil ini sesuai dengan literatur.
2. B2 +
pereaksi zwikker menghasilkan warna biru untuk Na. Barbital . kemudian ditambahkan H2SO4
warna yang dihasilkan tetap dan hasil ini tidak sesuai dengan literatur.
B. Saran
Kami
sebagai praktikan sangat mengharapkan arahan dan bimbingan dari asisten baik
pada saat praktikum maupun pada saat penyusunan laporan.
DAFTAR PUSTAKA
Adam Wiryawan, 2011,
“Pengertian Kimia Analitik,
“http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/pendahuluan-kimia-analitik/pengertian-kimia-analitik/),
diakses pada tanggal 4 Januari 2011.
Anonim, 2012, “Kimia
Analitik”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_analitik), diakses pada tanggal 21
November 2012.
Dirjen POM, 1979, “ Farmakope
Indonesia Edisi III”, Depkes, RI, Jakarta
Dirjen POM, 1995, “ Farmakope
Indonesia Edisi IV”, Depkes, RI, Jakarta
Ganiswarna, S. G, 1995,
“Farmakologi dan Terapi Edisi 4”, UI, Jakarta
Gunawan, S. G, 2009,
“Farmakologi dan Terapi Edisi 5”, UI, Jakarta
Tjay Hoan, 2007,”Obat-obat
Penting”, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
LAMPIRAN
Perhitungan
Bahan
1. Pereaksi Zwikker
CuSO4 4 ml
Piridin 1
ml
Air 5
ml
2. Pereaksi H2SO4 1%
H2SO4 1% b/b
= 
= 1 ml
Jadi, 1 ml H2SO4 dalam
100 ml Larutan
3. Pelarut Alkohol 70%
Dik :% K1 = 96%
V1 = 250 ml
% K2 = 70%
Dit
: V2….?
Penyelesaian…
%
K1 X V1 = % K2 X V2
96% X 250 ml
= 70% X V2
V2 = 
=
=
182.29 m
SKEMA
KERJA
1.
Uji organoleptis
Sampel
Dicatat pengamatan
2.
Uji kelarutan
![]() |
Alkohol
B1 B2
Diamati kelarutannya
3.
Uji Penegasan
Zwikker
H2SO4
B1 + zwikker + H2SO4 B2 + zwikker + H2SO4
Diamati perubahan warna yang terjadi

Keterangan:
1. Sampel B1 + Zwikker + H2SO4
2. Sampel B2 + Zwikker + H2SO4


