Rabu, 29 Januari 2014

Laporan KFA BARBITURAT

BAB I
PENDAHULUAN
           
Kimia Analitik merupakan salah satu cabang Ilmu Kimia yang mempelajari tentang pemisahan dan pengukuran unsur atau senyawa kimia. Dalam melakukan pemisahan atau pengukuran unsur atau senyawa kimia, memerlukan atau menggunakan metode analisis kimia.Kimia analitik mencakup kimia analisis kualitatif dan kimia analisis kuantitatif. Analisis kualitatif menyatakan keberadaan suatu unsur atau senyawa dalam sampel, sedangkan analisis kuantitatif menyatakan jumlah suatu unsur atau senyawa dalam sampel (Wiryawan. A, 2011).
Kimia analitik modern dikategorisasikan melalui dua pendekatan, target dan metode. Berdasarkan targetnya, kimia analitik dapat dibagi menjadi kimia bioanalitik, analisis material, analisis kimia, analisis lingkungan, dan forensik. Berdasarkan metodenya, kimia analitik dapat dibagi menjadi spektroskopi, spektrometri massa, kromatografi dan elektroforesis, kristalografi, mikroskopi, dan elektrokimia (Anonim, 2012).
Analisis kualitatif bertujuan untuk menemukan dan mengidentifikasi suatu zat. Jadi analisis kualitatif berhubungan dengan unsur ion atau senyawa apa yang terdapat dalam sampel. Analisis kuantitatif bertujuan untuk menentukan jumlah atau banyaknya zat. Jadi, analisis kuantitatif berhubungan dengan berapa banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel (Anonim, pdf, 2012)
Maksud percobaan adalah Untuk mengidentifikasi dan mengetahui   zat – zat terutama obat golongan barbiturat dengan menggunakan beberapa pereaksi.
Tujuan percabaan adalah Untuk mengidetifikasi senyawa obat golongan barbiturat dengan melalui uji pendahuluan, uji golongan, dan uji penegasan yang menggunakan beberapa pereaksi.
Prinsip percabaan adalah Berdasarkan pengidetifikasian senyawa obat golongan barbiturat yang dilakukan melalui uji pendahuluan, uji golongan, dan uji penegasan dengan menggunakan beberapa pereaksi spesifik yakni pereaksi wagner, pereaksi cuprifil maka akan terbentuk kristal pada ujj penegasan.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Teori Umum

O
 

R3
 
Barbiturat merupakan derivat asam barbiturat (2,4,6-trioksoheksa-hidropirimidin). Asam Barbiturat sendiri tidak menyebabkan depresi SSP, efek hipnotik-sedatif dan efek lainnya ditimbulkan bila posisi 5 ada gugusan alkil atau aril. Rumus kimia secara umum serta rumus beberapa Barbiturat sebagai berikut:
 




5
 

2
 
(S=)*       
 





Efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hypnosis, berbagai tingkat anesthesia, koma, sampai kematian. Barbiturat tidak dapat mengurangi rasa nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran, dan dosis kecil barbiturat dapat meningkatkan reaksi terhadap rangsangan nyeri. Pada beberapa individu, dan dalam keadaan tertentu, misalnya adanya rasa sakit, barbiturat tidak menyebabkan sedasi melainkan malah menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan delirium). Hal ini mungkin disebabkan adanya depresi pusat penghambatan (Gunawan, 2009).
Barbiturat tidak mengurangi rasa nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran dan dosis kecil barbiturat dapat meningkatkan raeksi terhadapa rangsangan nyeri. Pada beberapa individu, dan dalam keadaan tertentu, misalnya ada rasa sakit, barbiturat tidak menyebabkan sedasi melainkan malah menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan delirium). Hal ini mungkin disebabkan adanya depresi pusat penghambatan (Ganiswara, 1995)
Barbiturat: Fenobarbital, Butobarbital, Siklobarb dll. Penggunaannya sebagai sedative-hipnotika kini praktis sudah ditinggalkan berhubung adanya zat-zat benzodiazepine yang jauh lebih aman. Dewasa ini hanya beberapa barbiturat masih digunakan untuk indikasi tertentu, misalnya fenobarb, dan mefobarb sebagai anti-epileptika dan pentotal sebagai anestetikum (Tjay Hoan, 2007).







B.   Uraian Bahan.
1.     Aquadest ( Depkes RI, 1979 )
Nama Resmi          :   AQUA DESTILLATA
Nama Lain              :    Air suling
Rumus Molekul     :    H2O
Berat Molekul         :    18,02
Pemerian                :    Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Penyimpanan        :    Dalam wadah tertutup rapat
2.     Alkohol ( Depkes RI, 1979 )
Nama Resmi          :   AETHANOLUM
Nama Lain              :   Etanol, alkohol
Rumus Molekul     :   C2 H6O
Pemerian                :    Cairan tidak berwarna, jernih mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas mudah terbakar dengan memberikan nyal biru tidak berasap.
Kelarutan                :    Sangat mudah tertutup rapat terlindung dari.
3.    Barbital Natrium (Depkes RI, 1979 )
Nama Resmi          :   BARBITALUM NATRICUM
Nama Lain              :   Barbital natrium
Rumus Molekul     :   C8H11N2NaO3
Berat Molekul         :   206, 2
Pemerian                :    Serbuk hablur; putih; tidak berbau; pahit
Kelarutan                :    Larut dalam 5 bagian air dan dalam 600 bagian etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan        :   Dalam wadah tertutup baik.
4.     Fenobarbital (Depkes RI, 1979)   
Nama Resmi          :   PHENOBARBITALUM
Nama Lain              :   Fenobarbital, luminal
Rumus Molekul     :   C12H12N2O3
Berat Molekul         :   232, 24
Pemerian                :    Hablur atau serbuk hablur; putih tidak berbau;  rasa agak pahit.
Kelarutan                : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam etanol (95%) P, dalam eter P, dalam larutan alkali hidroksida dan dalam larutan alkalkarbonat.
Penyimpanan        :   Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan              :   Hipnotikum sedativum
5.    H2SO4 (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi                 :        ACIDUM SULFURICUM
Nama Lain                     :        Asam Sulfat
Rumus Molekul            :        H2SO4
Berat Molekul                :        98,07
Pemerian                       :       Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna, jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas.
Penyimpanan               :       Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan                     :       Zat tambahan














                                             


BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.   Alat dan Bahan
1.    Alat
a.    Batang pengaduk
b.    Corong
c.    Gelas kimia
d.    Gelas ukur
e.    Labu ukur
f.     Handscun
g.    Korek api kayu
h.    Lap kasar dan lap halus
i.      Lampu spiritus
j.      Masker
k.    Rak tabung
l.      Sendok tanduk
m.   Sendok porselin
n.    Timbangan
o.    Tabung reaksi
p.    Pipet tetes


2.    Bahan
a.    Alkohol
b.    Aquades
c.    Barbital natrium
d.    Fenobarbital
B.   Metode kerja
1.    Pembuatan pereaksi
a.    Pereaksi zwikker
1)    Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2)    Ditimbang CuSO4.5H2O sebanyak 5 g, diukur NaOH pekat dan H2SO4 pekat
3)    Dicampur ketiga bahan, aduk hingga homogen
4)    Dicukupkan volumenya hingga 100 ml.
b.    Pereaksi Asam Sulfat
1)  Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2)  Ditimbang H2SO4
3)  Dimasukkan H2SO4 kedalam labu ukur kemudian dicukupkan volumenya dengan Aquadest ad 100 ml, kocok hingga homogen.
2.    Cara kerja
a.    Fenobarbital
1)  Disipkan alat dan bahan yang digunakan
2)  Diambil sampel fenobarbital secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutakn dengan alcohol 70%, kemudian ditambahkan pereaksi Zwikker 2-3 tetes, hingga menghasilkan warna biru muda, kemudian ditambahkan H2SO4 hingga larut atau tetap.
b.    Na. Barbital
1)  Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2)  Diambil sampel Na.barbital secukupnya masukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilarutakn dengan alcohol 70%, kemudian ditambahkan pereaksi zwikker hingga menghasilkann warna bening kebiruan. Kemudian tambahkan H2SO4 hingga warnanya tetap atau larut.







BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.   Hasil Pengamatan
1.    Table 1. Hasil Pengamatan Uji Organoleptis
NO.
Sampel
Rasa
Warna
Bau
Bentuk
1.
B1
Agak pahit
Putih
Tidak berbau
Hablur atau serbuk hablur
2.
B2
Pahit
Putih
Tidak berbau
serbuk hablur

2.    Table 2. Hasil Pengamatan Uji Penegasan
NO
Sampel
Pereaksi
Hasil praktikum
Menurut Literatur
Ket.
1.
B1
Zwikker
+
H2SO4
Bening kebiruan
Tetap
Ungu biru

Jingga
-

-
2.
B2
Zwikker
+
H2SO4
Biru muda

Tetap
Ungu biru

Jingga
+

-



B.   P


 


 


 


 



 



 



 


 


 


 


 
embahasan


 


 
      Pada percobaan ini dilakukan uji kualitatif pada golongan barbiturat dimana sampel yang digunakan yaitu fenobarbital dan natrium barbital. Adapun pereaksi yang digunakan yaitu pereaksi zwikker dan pereaksi parri. Dalam percobaan ini juga digunakan alkohol sebagai pelarut.
      Sifat-sifat umum yang dimiliki oleh golongan obat barbital yaitu sukar larut dalam air, bereaksi dengan asam lemah, dalam bentuk keton tidak larut dalam air, dalam bentuk mol larut dalam air, bentuk keton larut dalam CHCL3, eter, etil alkohol, garam natriumnya mudah terhidrolisa, apalagi kalau dipanaskan akan pecah dan yang mengendap adalah uraiannya.
      Untuk sampel fenobarbital, didapatkan hasil yang mana baunya lemah, warna putih, rasa pahit agak pedas, berbentuk serbuk dan sudah larut dalam air. Dimana fenobarbital setelah dilarutkan dengan alcohol dan ditambahkan dengan pereaksi zwikker menghasilkan larutan yang berwarna ungu kebiruan, kemudian ditambahkan H2SO4 menghasilkan warna jingga. Pada literatur penambahan pereaksi  zwikker menghasilkan larutan berwarna ungu kebiruan, ditambahkan dengan H2SO4 menghasikan warna jingga. Hal ini menunjukan pengaruh positif. Pada Natrium Barbital setelah dilarutkan dengan alkohol dan direaksikan dengan  zwikker menghasilkan warna biru muda, kemudian ditambahkan H2SO4 dan warnanya tetap. Pada literature penambahan Zwikker menghasilkan warna ungu biru dan penambahan H2SO4 menghasilkan warna jingga. Hal ini juga menunjukkan pengaruh negatif.
      Adapun kesalahan dalam praktikum disebabkan oleh :
a)    Kesalahan dalam pembuatan pereaksi
b)    Alat yang digunakan kurang bersih
c)    Bahan yang digunakan sudah tidak baik
d)    Kesalan dalam pengamatan hasil reaksi

















BAB VI
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.    B1+ pereaksi zwikker menghasilkan larutan berwarna ungu biru  untuk fenobarbital, kemudian ditambahkan H2SO4 warna tetap dan hasil ini sesuai dengan literatur.
2.    B2 + pereaksi zwikker menghasilkan warna biru untuk Na. Barbital . kemudian ditambahkan H2SO4 warna yang dihasilkan tetap dan hasil ini tidak sesuai dengan literatur.
B.   Saran
                  Kami sebagai praktikan sangat mengharapkan arahan dan bimbingan dari asisten baik pada saat praktikum maupun pada saat penyusunan laporan.








DAFTAR PUSTAKA

Adam Wiryawan, 2011, “Pengertian Kimia Analitik, “http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/pendahuluan-kimia-analitik/pengertian-kimia-analitik/), diakses pada tanggal 4 Januari 2011.

Anonim, 2012, “Kimia Analitik”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_analitik), diakses pada tanggal 21 November 2012.

Dirjen POM, 1979, “ Farmakope Indonesia Edisi III”, Depkes, RI, Jakarta

Dirjen POM, 1995, “ Farmakope Indonesia Edisi IV”, Depkes, RI, Jakarta

Ganiswarna, S. G, 1995, “Farmakologi dan Terapi Edisi 4”, UI, Jakarta

Gunawan, S. G, 2009, “Farmakologi dan Terapi Edisi 5”, UI, Jakarta

Tjay Hoan, 2007,”Obat-obat Penting”, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta













LAMPIRAN
Perhitungan Bahan
1.  Pereaksi Zwikker
CuSO4               4 ml
Piridin                1 ml
Air                     5 ml
2.  Pereaksi H2SO4 1%
H2SO4 1% b/b
=
= 1 ml
Jadi, 1 ml H2SO4 dalam 100 ml Larutan
3.  Pelarut Alkohol 70%
Dik :% K1 = 96%
           V1  = 250 ml
       % K2 = 70%
Dit : V2….?
Penyelesaian…
% K1 X V1            =    % K2 X V2
96% X 250 ml     =  70% X V2
V2                           =
                  = = 182.29 m
SKEMA KERJA

1.   Uji organoleptis
Sampel
 


Diamati bentuk, rasa, warna, bau
 


Dicatat pengamatan

2.   Uji kelarutan
 


 
                                                                                           
                                                                       Alkohol
                    B1                      B2
                                                                                                     
Diamati kelarutannya

3.   Uji Penegasan
             
                           
 


  Zwikker                                                                                  H2SO4
                          B1 + zwikker + H2SO4      B2 + zwikker + H2SO4
                                                                                    
                                                                                                             
Diamati perubahan warna yang terjadi












Foto Perlakuan
Photo0547.jpg
                                                                          Keterangan:
1.    Sampel B1 + Zwikker + H2SO4
2.    Sampel B2 + Zwikker + H2SO4







Tidak ada komentar:

Posting Komentar